Get Adobe Flash player

TPA atau Insinerator?

Sebagian besar orang mungkin mengira TPA adalah singkatan dari Tes Potensi Akademik, Tempat     Penitipan Anak atau bahkan Taman Pendidikan Alquran.  

Semuanya tentu benar, tetapi singkatan TPA dalam tulisan ini merupakan kepanjangan dari Tempat Pembuangan Akhir sampah. Untuk wilayah Kota Pekanbaru berada di Kelurahan Muara Fajar,  Kecamatan  Rumbai Pesisir.

TPA Muara Fajar sangat sering menjadi bahan pembicaraan, mulai dari lokasi keberadaannya, sampah yang berserakan, ulah pemulung, lalu lintas truk pengangkut sampah hingga bau sampah yang menyengat yang mengganggu masyarakat sekitarnya.

TPA yang mulai beroperasi  pada tahun 1983 ini (Laporan SLHD Kota Pekanbaru, 2008) yang berada pada lahan  9.418 Ha, pada desain awalnya  merupakan  TPA dengan sanitary landfill, yaitu  pembuangan dan penumpukan sampah ke suatu lokasi yang cekung, kemudian dilakukan pemadatan sampah tersebut dan menutupnya dengan tanah. TPA sanitary landfill dioperasikan secara sistematis.

Ada proses penyebaran dan pemadatan sampah pada area pengurugan dan penutupan sampah setiap hari. Penutupan sel sampah dengan tanah penutup juga dilakukan setiap hari.

Metode ini merupakan metode standar yang dipakai secara internasional. Untuk meminimalkan potensi gangguan timbul, maka penutupan sampah dilakukan setiap hari.

Namun, untuk menerapkannya diperlukan penyediaan prasarana dan sarana yang cukup mahal.

Sehingga seiring bertambahnya waktu, operasional TPA Muara Fajar dilakukan secara  open dumping, yakni pembuangan sampah dilakukan di lahan tanah lapang (terbuka) tanpa ada pengolahan lebih lanjut.

Berdasarkan Pasal 44 Undang-Undang No  18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, pemerintah daerah berkewajiban untuk menutup tempat pemrosesan akhir sampah yang menggunakan sistem pembuangan terbuka (dalam hal ini open dumping) paling lambat 5 (lima) tahun sejak undang-undang tersebut diberlakukan dengan  terlebih dahulu membuat perencanaan penutupan tempat pemroses akhir sampah.

Ini berarti bahwa semua kabupaten/kota di Indonesia dilarang  mengoperasikan TPA dengan sistem open dumping mulai 2013.

Insinerator Sampah
Insinerator merupakan  suatu alat  penghancuran sampah melalui pembakaran dalam suatu sistem yang terkontrol dan terisolir dari lingkungan sekitarnya.

Insinerasi sampah menggunakan temperatur tinggi merupakan  pengolahan termal. Insinerasi material sampah mengubah sampah menjadi abu, gas sisa hasil pembakaran, partikulat  dan panas.

Gas yang dihasilkan harus dibersihkan dari polutan sebelum dilepas ke atmosfer. Panas yang dihasilkan bisa dimanfaatkan sebagai energi pembangkit listrik.

Abu hasil pembakaran sampah dari insineratpr juga dapat dimanfaatkan untuk produksi semen atau produksi batu bata/batako.

Namun, tentu saja harus dilakukan uji kuat tekan (unconfined comprssive strengh) dan uji TCLP (Toxicity Concentration Leaching Procedure) terlebih dahulu.

Uji kuat tekan dimaksudkan untuk menguji kekuatan atau daya tahan batu bata apakah cepat rapuh atau tidak karena  akan mempengaruhi daya jual batu bata tersebut.

Setiap daerah menghasilkan komposisi sampah yang berbeda-beda dan tidak bisa digeneralisasi bahwa setiap hasil residu dari insinerator sampah dapat dibuat suatu produk tertentu dengan kekuatan yang sama.

Sementara uji TCLP digunakan untuk mengetahui kadar zat berbahaya dan beracun yang masih terkandung di dalamnya sehingga dapat memastikan produk  yang dihasilkan akan aman bagi lingkungan dan  digunakan oleh masyarakat luas.

Insinerator biasanya digunakan oleh industri dan rumah sakit yang menghasilkan sampah/limbah yang  mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) atau limbah bahan berbahaya dan beracun (LB3).

Misalnya industri pupuk dan tekstil.  Rumah sakit juga merupakan penghasil limbah B3 yang bersifat klinis dan patologis seperti jarum suntik, infus dan sebagainya.

Limbah-limbah jenis ini, pengelolaannya tidak dapat digabung atau dicampur dengan sampah rumah tangga atau sejenisnya.

Penggunaan insinerator merupakan salah satu penanganan sampah dengan cara pengolahan sampah dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah sebelum dilakukan pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan ke media lingkungan secara aman.

Penanganan sampah dilakukan setelah dilakukan pengurangan sampah yang meliputi pembatasan timbulan sampah (mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan), pendauran ulang sampah; dan atau pemanfaatan kembali sampah.

Latar belakang diberlakukannya undang-undang pengelolaan sampah adalah untuk mengubah paradigma pengelolaan sampah yang masih bertumpu pada pendekatan akhir (end of pipe)  menjadi paradigma baru pengelolaan sampah.

Paradigma baru memandang sampah sebagai sumber daya yang mempunyai nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan, misalnya, untuk energi, kompos, pupuk ataupun untuk bahan baku industri.

Pengelolaan sampah dilakukan dengan pendekatan yang komprehensif dari hulu, sejak sebelum dihasilkan suatu produk yang berpotensi menjadi sampah, sampai ke hilir, yaitu pada fase produk sudah digunakan sehingga menjadi sampah, yang kemudian dikembalikan ke media lingkungan secara aman.

Pengelolaan sampah dengan paradigma baru tersebut dilakukan dengan kegiatan pengurangan dan penanganan sampah.

Pengurangan sampah meliputi kegiatan pembatasan, penggunaan kembali dan pendauran ulang, sedangkan kegiatan penanganan sampah meliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan pemrosesan akhir.

Pengelolaan sampah perkotaan dengan mengolah  sampah melalui insinerator sebelum ke tempat pemrosesan akhir (TPA)  adalah jalan alternatif terakhir ketika semua kegiatan pengelolaan telah dilakukan.   

Pengolahan sampah dengan  insinerator tidak boleh dicampurkan untuk semua jenis sampah. Sampah harus dipilah terlebih dahulu antara sampah rumah tangga dan sejenisnya dengan sampah spesifik yang mengandung  B3 dan Limbah B3 seperti lampu TL, baterai dan sebagainya yang notabene adalah juga  sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga.

TPA atau Insinerator?
Sampai saat ini  TPA masih sangat dibutuhkan oleh setiap kabupaten/kota sebagai tempat pemrosesan akhir sampah, hanya saja sistem open dumping yang biasa diterapkan perlu segera diubah dengan sistem sanitary lanfill sehingga keamanan dan kesehatan masyarakat dan lingkungan sekitarnya baik untuk masa sekarang dan masa depan tetap terjaga dengan baik.

Penggunaan insinerator untuk pengolahan sampah perkotaan  (yang didominasi oleh sampah rumah tangga dan sejenisnya) bukanlah suatu solusi akhir yang dapat  mengolah semua jenis sampah yang ada.

Sudah saatnya semua kabupaten/kota, mengolah sampahnya dengan menggunakan prinsip  3R (reduce, reuse, recycle) sebagai praktik mengurangi sampah.

Dengan menerapkan prinsip tersebut, maka pemberdayaan masyarakat untuk mengelola sampahnya mulai dari sumber akan berkembang dan meningkat sehingga jumlah sampah yang dibuang, diangkut dan ditempatkan di TPA akan berkurang.

Ditambah lagi apabila TPA dioperasikan secara sanitary landfill yang dapat memperpanjang masa pakai TPA. Sosialisasi dan pembinaan kepada masyarakat   harus terus dilakukan.

Masyarakat  harus dididik untuk mendayagunakan sampah  sebagai barang yang bernilai ekonomi bukan  sebagai barang yang tidak bernilai sehingga rasa ingin “membuang” semakin sampah berkurang dan volume sampah yang dihasilkan juga ikut berkurang.***

Rima Septisia, Pegawai Badan Lingkungan Hidup Kota Pekanbaru.