info@pekanbaru.go.id                        TRILOGI | FALSAFAH KERJA PEMERINTAH KOTA PEKANBARU
(0761) 47527
Lawan Radikalisme dan Antisipasi Terorisme

Warga 4 RW Kecamatan Tampan Gelar Dialog

Warga 4 RW Kecamatan Tampan Gelar Dialog

PEKANBARU— Warga 4 Rukun Warga (RW) yang ada di Kelurahan Simpang Baru Kecamatan Tampan menggelar dialog bertema melawan radikalisme dan mengantisipasi ancaman terorisme, Sabtu malam (7/10) sekitar pukul 19.30 WIB.

Acara yang dilaksanakan di Masjid Istiqomah Perum Panam ini diprakarsai oleh perwakilan dari Mabes Polri AKBP Suhaimi. Pada kegiatan itu hadir juga tokoh-tokoh masyarakat setempat serta pengurus Masjid Istiqomah.

"Agenda dialog ini kita lakukan untuk meningkatkan kewaspadaan ancaman terorisme yang semakin meluas hingga ke Indonesia tak terkecuali Riau. Hal ini berkaca dari beberapa negara yang sudah dirusak oleh paham radikalisme. Semoga dengan adanya kegaiatan ini dapat menjadi pengetahuan baru kita bersama terhadap ancaman terorisme ini," ungkap Suhaimi.

Selain mengelar dialog, pada  kesempatan tersebut juga diisi Tausiyah oleh Ustadz Zulhusni Domo SAg yang juga Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (Sekum MUI Riau). 

Dalam  tausiyahnya, Zulhusni mengajak kepada anak muda agar memahami ajaran Islam secara utuh dan jangan mudah terprovokasi oleh paham-paham radikalisme atas nama agama.

"Maka dari itu pelajarilah Islam secara utuh secara Kaffah jangan setengah-setengah. Selain itu, Jangan mudah terjebak ajaran yang menyesatkan, karena Islam itu damai dan tidak suka perang..Oleh sebab itu kita justru harus bersatu melawan paham- paham yang bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri," himbau Zulhusni.

Acara ini tambah menariknya lagi, hadir juga Ustadz Khairul Gazali. Ia adalah mantan teroris yang bertobat. Bahkan, ia banyak bercerita tentang latar belakang dan hal-hal yang mengungkapkan tak diketahui orang banyak soal terorisme ini.

"Radikalisme itu karena intoleran. Lahirnya orang-orang yang akhirnya menjadi terorisme ini berawal dari banyak pemuda yang berangkat ke Afganistan atas nama Jihad di era 1980 an, mereka berlatih perang, dan pendoktrinan bahwa membunuh di luar keyakinan itu benar," ujar  Khairul.

Doktrinnya lanjut Khairul adalah kebencian terhadap orang berbeda pandangan tentang keyakinan mereka. "Baik itu polisi, hakim berbeda agama semua Thogut, darahnya halal untuk dibunuh," ungkap Khairul.

Dikatakannya lagi, berbagai aksi kekerasan dilakukan hingga melakukan pengeboman semua itu bagian dari doktrinisasi terorisme.     

"Hal ini tentu berlawanan yang diajarkan Nabi Muhammad Saw. Padahal sesungguhnya Jihad itu luas pengertiannya seluas langit dan bumi. Berjihad untuk menjaga keutuhan keluarga, menjaga ibu itu jihad, mencari nafkah itu jihad. Menafkahi keluarga itu jihad," ujarnya.

Dalam kesempatan ini Khairul berpesan  kepada anak- anak muda dan orang tua hati-hati atas doktrin tersebut. "Jika sudah didoktrin akan sangat berbahaya bagi kita untuk menyadarkannya kembali.

Selain itu, Khairul juga mengungkapkan pengalamannya setelah tidak terlibat lagi dengan terorisme. Khairul memulai kehidupan baru dengan membangun pesantren. Anak didiknya banyak mantan teroris dan ia menggratiskan bagi anak didiknya. Pesantren yang ia bangun di Sumatera Utara.

"Untuk membiayai pesantren secara swadaya, kami membangun pertanian dan kolam ikan untuk mendapat pendanaan," sebut Khairul.

Acara dialog ini selain diisi dengan ceramah, juga dilakukan tanya jawab bagi para jemaah yang hadir. Usai acara dialog ini, dilakukan photo bersama dan bercengkerama sesama jemaah yang hadir. (Kominfo/1).

: facebooktwittergoogle plusPinterest